Anakku, bila kau ingin menjalin silaturahmi dengan siapapun, maka undanglah ke rumahmu dan muliakanlah. Muliakan semampumu. Karena siapapun yang datang ke rumahmu adalah tamu Alloh. Dan barangsiapa memuliakan tamu Alloh, maka akan dimuliakan oleh Alloh.
Barangsiapa menyayangi yang di bumi,
maka Alloh dan para malaikat di langit akan menyayangi. (Hadis)
Berlaku sebaliknya, barangsiapa menyakiti yang di bumi,
maka Alloh dan para malaikat di langit akan melaknatnya.
Memuliakan orang lain, pada dasarnya memuliakan diri sendiri.
Bila kau menyambut hangat, siapapun yang diundang,
maka orang akan selalu merindukan undanganmu.
Bila kau menggores luka, pada siapapun yang diundang,
maka mereka akan kapok untuk datang ke rumahmu.
Jangan sekali-kali, mengecewakan tamu yang diundang.
Jangan menyakiti hati tamu yang diundang.
Jangan menyinggung perasaan tamu yang diundang.
Jangan merendahkan harga diri tamu yang diundang.
Jangan merugikan tamu yang diundang.
Pamer harta kekayan pada tamu yang diundang.
Kalau cuma untuk disakiti, mengapa harus diundang.
Renungan: Suatu saat Rosul saw kedatangan tamu dari Makah. Dia adalah bekas pembantunya Khodijah, istri beliau dahulu. Rosul saw sangat senang. Surbannya digelar untuk duduk tamunya. Semua makanan yang ada dihidangkan. Pulangnya diberi bekal uang dan diberi seratus ekor kambing. Sampai Aisah cemburu, pembantunya saja sangat dimuliakan. Betapa besar cinta Rosul Saw pada Khodijah dahulu. (Graha Pencerah Jiwa, Jumat, 01/08/14, Abah, Sebarkan)
: