Anakku, ibadah itu dengan hati. Ibadah itu dengan menghadirkan hati. Ibadah tanpa kehadiran hati, maka akan sia-sia di mata Alloh.
Ibadah sesungguhnya adalah ibadah yang dilakukan dengan hati.
Ibadah sesungguhnya, bila kita hadirkan pikiran, dan hati.
Ibadah itu bila pikiran kita juga ikut ibadah.
Ibadah itu bila hati kita juga turut ibadah.
Bila sedang ibadah, hadirkan pikiran, dan hati, pada ibadah itu.
Jangan berfikir kemana-mana, jangan berfikir yang bukan-bukan.
Anggaplah ibadah itu adalah ibadah yang terakhir dalam hidup.
Baguskan ibadah terakhirmu ini untuk bekal menghadap Alloh.
Jangan pikirkan pekerjaan yang sudah kau selesaikan, agar tidak melamun.
Jangan pikirkan pekerjaan yang sedang kau kerjakan, agar hatimu tidak risau.
Jangan pikirkan pekerjaan yang akan kau kerjakan, agar ibadahmu tidak tergesa-gesa.
Ibadah dengan hati akan lebih terasa nikmat.
Ibadah dengan hati akan merubah hati.
Merubah dari hati yang jelek, menjadi hati yang baik. Bila hati berubah baik, maka kehidupan akan berubah baik.
Bila kehidupan berubah baik, maka nasib akan berubah baik.
Renungan: Seorang santri bertanya pada gurunya. Guru, bagaimana aku bisa merubah nasibku. Perbaiki hubunganmu dengan Alloh. Perbaiki ibadahmu. Perbaiki sholatmu, jawab sang guru. Bila sholatmu baik,maka semua aspek kehidupanmu akan baik. Alloh akan turunkan ribuan Malaikat untuk memperbaiki kehidupanmu. Bila sholatmu baik, maka perjalanan akheratmu akan mudah. Semua amalmu akan dianggap baik, seperti sholatmu. (Graha Pencerah Jiwa, Jumat, 11/07/14, Abah, Sebarkan)
: