Anakku, berkeinginan itu boleh. Tapi kalau kau yakin Alloh sudah punya rencana terbaik untuk kehidupanmu, mengapa kau tidak mencoba berserah diri. Berat memang, tapi perlu dicoba.
Berkeinginan itu boleh.
Tapi kalau kau tahu, bahwa keinginan Alloh itu yang terbaik.
Mengapa kita tidak mencoba berserah diri.
Bercita-cita itu boleh.
Tapi kalau kau tahu, bahwa cita-cita Alloh itu pasti berlaku.
Mengapa kita tidak mencoba berserah diri.
Berkehendak itu boleh.
Tapi kalau tahu, manusia tidak bisa menolak kehendak Alloh.
Mengapa kita tidak mencoba berserah diri.
Ya Alloh ikhlaskan hati kami pada kehendak-Mu, dari pada kehendakku sendiri.
Karena kami yakin, bahwa kehendak-Mu adalah yang terbaik.
Ya Alloh ikhlaskan hati kami pada ketentuan-Mu, dari pada ketentuanku sendiri.
Karena kami yakin, bahwa ketentuan-Mu adalah yang terbaik.
Ya Alloh ikhlaskan hati kami pada keinginan-Mu, dari pada keinginanku sendiri.
Karena kami yakin, bahwa keinginan-Mu adalah yang terbaik.
Renungan: Berserah diri pada Alloh, seperti tujuh orang pemuda tertidur di dalam gua selama 350 tahun, dalam kisah ashabul kahfi. Alloh yang membolak-balikkan badannya sehingga tidak terbakar matahari. Berserah diri pada Alloh, seperti gerak wayang di tangan seorang dalang. Dalang yang menentukan, yang menggerakkan, yang memutuskan, kapan dia tampil, dan kapan dia masuk kotak. Berserah diri pada Alloh, seperti sesosok mayat yang dimandikan oleh Pak Modin. Tidak pernah protes, mana dulu yang dibasahi, dan mana dulu yang disucikan. (Graha Pencerah Jiwa, Selasa, 01/07/14, Abah, Sebarkan)
: